Senin, 27 April 2015

Asuhan Keperawatan Gagal Napas



MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA
GAGAL NAPAS








Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah keperawatan Gawat Darurat

ANGGOTA:

Dessy Susilaningrum        (13.0601.0018)
Selvia Andreyani              (13.0601.0019)
Lisa Dwi Aristiani            (13.0601.0020)
Annastasia D. W. P.         (13.0601.0021)
Yuliana Saputri                (13.0601.0022)


PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2015









KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat karunia, serta taufik dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA
GAGAL NAPAS” tepat waktu.

Kami mangucapkan terima kasih kepada rekan – rekan yang sudah membantu dalam menyusun makalah ini dari awal hingga akhir.

Kami berharap makalah ini mudah untuk dipahami sehingga dapat menambah wawasan bagi pembaca.



Magelang, 08 April 2015


   penyusun








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................
DAFTAR ISI.............................................................................................................
BAB I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang...................................................................................... .........
B.    Tujuan .................................................................................................. .........
BAB II. LANDASAN TEORI
A.              Pengertian Gagal napas.........................................................................
B.              Etilogi Gagal Napas..............................................................................            
C.              Manifestasi Klinis Gagal Napas............................................................            
D.    Patofisiologi Gagal napas...............................................................................                        
BAB III. PENUTUP
A.    KESIMPULAN.................................................................................... .........
B.    SARAN..........................................................................................................            
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................









BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Gagal nafas terjadi karena pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju komsumsi oksigen dan pembentukan karbondioksida dalam sel-sel tubuh. Sehingga menyebabkan tegangan oksigen kurang dari 50mmHg ( hipoksemia) dan peningkatan tekanan karbon dioksida lebih besar dari 45mmHg (hiperkapmia). ( Brunner &Sudarth,2001)
Dengan bernafas setiap sel didalam tubuhmenerima persediaan oksigennya dan pada saat yang sama melepaskan produk oksidasinya. Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hidrogen dari jaringan, memungkinkan setiap sel sendiri-sendiri melangsungkan proses metabolismenya, yang berarti pekerjaan selesai dan hasilbuangan dalam bentuk karbon dioksida dan air dihilangkan (Pearce, 2008).
Sistem respirasi pada manusia terdiri dari jaringan dan organ tubuh yang merupakan parameter kesehatan manusia. Jika salah satu sistem respirasi terganggu maka sistem lain yang bekerja dalam tubuh akan terganggu. Hal ini dapat menimbulkan terganggunya proses homeostasis tubuh dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit.
Gagal napas biasanya ditakuti oleh mereka yang sudah menderita penyakit kronis pernapasan seperti asma, bronkitis, dan lain sebagainya. Pada peristiwa kecelakaanpun tidak sedikit dari korban yang bisa mengalami gagal nafas karena trauma. Apabila gagl napas tidak ditindak lanjuti dengan cara dan prosedur yang tepat maka ditakutkan dapat menambah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, makalah ini membahas tentang asuhan keperawatan kegawat daruratan gagal napas.


B.     TUJUAN
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu untuk mengetahui
1.      Pengertian gagal napas
2.      Etiologi gagal napas
3.      Menifestasi klinis gagal napas
4.      Patofisiologi gagal napas
5.      Anatomifisiologi gagal napas
6.      Konsep dasar asuhan keperawatan gagal napas







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  PENGERTIAN
            Gagal nafas adalah ketidakmampuan sistem pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi darah normal (PaO2), eliminasi karbon dioksida (PaCO2) dan pH yang adekuat disebabkan oleh masalah ventilasi difusi atau perfusi (Susan Martin T, 1997)
            Gagal nafas adalah kegagalan sistem pernafasan untuk mempertahankan pertukaran oksigen dan karbondioksida dalam jumlah yang dapat mengakibatkan gangguan pada kehidupan (RS Jantung “Harapan Kita”, 2001)
            Gagal nafas terjadi bilamana pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju komsumsi oksigen dan pembentukan karbon dioksida dalam sel-sel tubuh. Sehingga menyebabkan tegangan oksigen kurang dari 50 mmHg (Hipoksemia) dan peningkatan tekanan karbondioksida lebih besar dari 45 mmHg (hiperkapnia). (Brunner & Sudarth, 2001)

B.  ETIOLOGI (BRUNNER & SUDARTH, 2001)
1.            Depresi Sistem saraf pusat
Mengakibatkan gagal nafas karena ventilasi tidak adekuat. Pusat pernafasan yang mengendalikan pernapasan, terletak dibawah batang otak (pons dan medulla) sehingga pernafasan lambat dan dangkal.
2.            Kelainan neurologis primer
Akan mempengaruhi fungsi pernapasan. Impuls yang timbul dalam pusat pernafasan menjalar melalui saraf yang membentang dari batang otak terus ke saraf spinal ke reseptor pada otot-otot pernafasan. Penyakit pada saraf seperti gangguan medulla spinalis, otot-otot pernapasan atau pertemuan neuromuslular yang terjadi pada pernapasan akan sangat mempengaruhi ventilasi.
3.            Efusi pleura, hemotoraks dan pneumothoraks
Merupakan kondisi yang mengganggu ventilasi melalui penghambatan ekspansi paru. Kondisi ini biasanya diakibatkan penyakti paru yang mendasari, penyakit pleura atau trauma dan cedera dan dapat menyebabkan gagal nafas.
4.            Trauma
Disebabkan oleh kendaraan bermotor dapat menjadi penyebab gagal nafas. Kecelakaan yang mengakibatkan cidera kepala, ketidaksadaran dan perdarahan dari hidung dan mulut dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas atas dan depresi pernapasan. Hemothoraks, pnemothoraks  dan fraktur tulang iga dapat terjadi dan mungkin menyebabkan gagal nafas. Flail chest dapat terjadi dan dapat mengarah pada gagal nafas. Pengobatannya adalah untuk memperbaiki patologi yang mendasar
5.            Penyakit akut paru
Pnemonia disebabkan oleh bakteri dan virus. Pnemonia kimiawi atau pnemonia diakibatkan oleh mengaspirasi uap yang mengiritasi dan materi lambung yang bersifat asam. Asma bronkial, atelektasis, embolisme paru dan edema paru adalah beberapa kondisi lain yang menyebabkan gagal nafas.

C.    MANIFESTASI KLINIS (ARIEF, MANJOER. 2000)
1.      Tanda gagal nafas total
a.       Aliran udara di mulut, hidung tidak dapat didengar/dirasakan.
b.      Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikula dan sela iga serta tidak ada pengembangan dada pada inspirasi.
c.       Adanya kesulitan inflasi paru dalam usaha memberikan ventilasi buatan gagal nafas parsial.
d.        Terdenganr suara nafas tambahan gurgling, snoring, dan wheezing.
e.         Ada retraksi dada
2.      Gejala
a.       Hiperkapnia yaitu penurunan kesadaran (PCO2).
b.       Hipoksemia yaitu takikardi, gelisah, berkeringat atau sianosis (PO2 menurun)

Adanya penampilan dan manifestasi klinis SDPD adalah fungsi pulmonal atau non-pulmonal yang menyebabkan sindrom. Sayangnya, kebalikan dari seriusnya kedaruratan medis ini, pemeriksaan fisik biasanya tidak sangat jelas. Pokok utama pengkajian adalah distres pernapasan, hipoksemia berat, dan difusi bilateral infiltrasi alveolar pada foto dada.
Yang terakhir adalah sekunder terhadap peningkatan permeabilitas alveolokapiler sehubungan dengan fluks cairan dan protein ke dalam interstitium dan alveoli.
Tanda utama distres pernapasan dan hipoksemia berat berubah pada tingkat ketajaman mental, takikardi, dan takipnea. Frekuensi pernapasan seringkali meningkat secara bermakna dengan ventilasi menit tinggi. Dispnea dengan sesak napas dan berhubungan dengan retraksi interkostal adalah umum. Sianosis dapat atau tidak dapat terjadi. Hal ini harus diingat bahwa sianosis adalah tanda dini dan nyata dari hipoksemia.
Auskultasi dada tampak sedikit, bila ada ini merupakan abnormalitas. Ronki basah kasar bergelembung pada edema pulmonal kardiogenik, tidak ada. Ronki sekunder terhadap sekresi pada jalan napas besar, tidak terjadi. Auskultasi jantung biasanya menunjukkan bunyi jantung normal tanpa gallop atau murmur, kecuali ada penyakit jantung atau mengalami trauma.
Karena pemeriksaan fisik seringkali tidak memberi petunjuk, satu dari alat-alat pengkajian yang kuat adalah kesadaran konstan terhadap penyebab SDPD. Perawat harus mempertahankan tingkat kecurigaan yang tinggi, dan berusaha keras untuk mengkaji. Data dasar yang penting harus dikumpulkan, perubahan dan kecenderungan yang dapat merupakan petunjuk dini keadaan abnormal fungsi paru-tanda vital, sensori, dan GDA-harus dicatat. Peningkatan bertahap frekuensi pernapasan tanpa gejala atau tanda penyerta mungkin merupakan petunjuk dini. Timbulnya SDPD klinis dapat tersembunyi atau tiba-tiba. Perawat harus mengembangkan dan mempelajari untuk mengikuti kecurigaannya. Pencegahan harus menjadi titik utama penatalaksanaan.

D.    PATOFISIOLOGI (BRUNNER & SUDARTH, 2001)
Gagal nafas ada dua macam yaitu gagal nafas akut dan gagal nafas kronik dimana masing masing mempunyai pengertian yang berbeda. Gagal nafas akut adalah gagal nafas yang timbul pada pasien yang parunya normal secara struktural maupun fungsional sebelum awitan penyakit timbul. Sedangkan gagal nafas kronik adalah terjadi pada pasien dengan penyakit paru kronik seperti bronkitis kronik, emfisema dan penyakit paru hitam (penyakit penambang batubara). Pasien mengalami toleransi terhadap hipoksia dan hiperkapnia yang memburuk secara bertahap. Setelah gagal nafas akut biasanya paru-paru kembali ke asalnya. Pada gagal nafas kronik struktur paru alami kerusakan yang ireversibel.
Indikator gagal nafas telah frekuensi pernafasan dan kapasitas vital, frekuensi penapasan normal ialah 16-20 x/mnt. Bila lebih dari20x/mnt tindakan yang dilakukan memberi bantuan ventilator karena “kerja pernafasan” menjadi tinggi sehingga timbul kelelahan. Kapasitas vital adalah ukuran ventilasi (normal 10-20 ml/kg).
Gagal nafas penyebab terpenting adalah ventilasi yang tidak adekuat dimana terjadi obstruksi jalan nafas atas. Pusat pernafasan yang mengendalikan pernapasan terletak di bawah batang otak (pons dan medulla). Pada kasus pasien dengan anestesi, cidera kepala, stroke, tumor otak, ensefalitis, meningitis, hipoksia dan hiperkapnia mempunyai kemampuan menekan pusat pernafasan. Sehingga pernafasan menjadi lambat dan dangkal. Pada periode postoperatif dengan anestesi bisa terjadi pernafasan tidak adekuat karena terdapat agen menekan pernafasan dengan efek yang dikeluarkan atau dengan meningkatkan efek dari analgetik opiod. Penemonia atau dengan penyakit paru-paru dapat mengarah ke gagal nafas akut.







BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


Pemeriksaan diagnostik
Gas darah arteri (GDA) mencatat beratnya hipoksemia. Derajat hipoksemia menjadi lebih berat (mis., PaO2< 50 mm) sebagai proses lanjut meskipun peningkatan konsentrasi suplemen oksigen. Sebaliknya untuk hipoksemia refraktori, PaCO2  rendah. Hasil lanjut menunjukkan peningkatan kompensasi bermakna pada ventilasi menit (VE) dalam upaya mempertahankan PaO2, yang ada sampai pasien menjadi lelah. Kotak displai 21-2 menunjukkan kesimpulan SDPD, dari penampilan klinis sepanjang prosess penatalaksanaan.

Penatalaksanaan
            Terapi modalitas untuk SDPD masih statik selama 20 tahun terakhir. Pada saat penulisan ini, perawatan adalah pendukung dan terdiri dari bantuan ventilasi dan TEAP, dengan harapan penggunaan waktu bagi pasien sampai faktor kontribusi dapat dikoreksi dan beberapa penyembuhan paru dapat terjadi.
            Tujuan utama pengobatan adalah untuk memperbaiki masalah ancaman hidup segera: pengiriman oksigen ke jaringan tak adekuat sekunder terhadap ketidakmampuan paru untuk mengoksigenasi, yang disebabkan oleh abnormalitas V/Q berat dan kebocoran. Pengiriman oksigen ditentukan oleh jumlah oksigen dalam darah dan curah jantung. Tujuan pengobatan kedua adalah untuk meminimalkan tekanan vaskular paru untuk mencegah atau menghambat kebocoran cairan pada membran kapiler alveolar.

Terapi oksigen
            Oksigen adalah obat dengan sifat terapetik penting dan secara potensial mempunyai efek samping toksik. Pasien tanpa sadar penyakit paru tampak toleran dengan oksigen 100% selama 24 sampai 72 jam tanpa abnormalitas fisiologi klinis penting. F1O2 tinggi (mis., >0,5) dalam waktu lama, namun dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas endotelium dan epitelium. Jumlah oksigen yang diberikan untuk SDPD harus paling rendah F1O2 yang menghasilkan kandungan oksigen adekuat (mis., kandungan oksihemoglobin >90%). Intubasi hampir selalu diindikasikan untuk mempertahankan F1O2 tetap tinggi.

Ventilasi mekanis
            Aspek penting perawatan SDPD adalah ventilasi mekanis.  Tujuan terapetik modalitas terapi ini adalah untuk memberikan dukungan ventilasi sampai integritas membran alveolokapiler kembali baik. Dua tujuan tambahan adalah :
1.      Memelihara ventilasi adekuat dan oksigenasi selama  periode kritis hipokesemia
2.      Mengembalikan faktor etiologi yang mengawali penyebab distres pernafasan

Untuk membantu mengembalikan atau mencegah atelektasis, volume tidal (VT  ) yang dianjurkan adalah dari 10-15ml/kg.

Tekanan Ekspirasi-Akhir Positif
Ventilasi dan oksigenasi adekuat diberikan oleh volume ventilator dengan tekanan tinggi dan kemampuan aliran, dimana TEAP  dipertahankan dalam alveoli melalui siklus pernafasan, selain itu mencegah atau mempertahankan alveli kolaps pada akhir ekspirasi. TEAP menyebabkan simpanan KRF dengan perbaikan tahanan jalan nafas dan komplains. Tujuan TEAP kontinu adalah perbaikan oksigenasi dan selanjutnya penurunan konsentrasi oksigen inspirasi yang diperlukan untuk memperbaiki hipoksemia yang mngancam hidup.
Komplikasi utama TEAP adalah penurunan curah jantung dan barotrauma. Enfisema subkutan, pnemotorak, dan pnemomediastinum yang terjadi selama ventilasi mekanis disebut barotrauma. Ini terjadi lebih sering bila pasien diventilasi dengan VTdiatas 15ml/kg atau TEAP tingkat tinggi. Pasien dengan status asmatikus dan penyakit paru obstriksi  kronik dengan volume paru tinggi juga berisiko untuk mengalami barotrauma selama ventilasi mekanis. Peralatan selang dada torakostomi darurat harus siap tersedia.
Penurunan curah jantung sekunder terhadap TEAP disebabkan oleh penurunan arus balik vena atau peningkatan tahanan vaskular pulmonal pemonitoran cermat terhadap tekanan darah pasien., nadi, haluaran urin, dan sensori penting. Dopamin atau nitropusidtelah digunakan untuk mengembalikan curah jantung ke normal. Infus normal tambahan juga akan mengembalikan curah jantung tetapi akan meningkatkan kandungan air paru.
Derajat TEAP untuk SDPD sangat kontroversial. Tujuan TEAP untuk memperbaiki hipoksemia yang mengancam hidup sementara menggunakan pendekatan terapetik paling aman. Banyak ahli pulmonal menggunakan ini, untuk kebanyakan pasien, TEAP tingkat rendah( miss,<15cm H2 O). Awasi potensial efek jantung karena TEAP , penambahan dan penurunan jumlah harus dibatasi pada kenaikan dan penurunan 3 sampai 5 cm H2O. Tekanan darah harus dicatat sebelum dan sesudah tiap perubahan. GDA akan memberikan dokumentasi keefektifan TEAP ( mis, perbaikan oksigenasi).

Kadar Hemoglobin
            Kebanyakan volume oxygen ditranspor kedalam jaringan dalam ikatan dengan hemoglobin. Bila anemia terjadi, kandungan oksigen dalam darah menurun. Sebagai akibat efek ventilasi mekanik, TEAP, dan suplemen akan minimal. Pengukuran seri hemoglobin perlu untuk kalkulasi kandungan oksigen, yang akan menentukan kebutuhan untuk tranfusi sel darah merah.

Pemeliharaan jalan napas
            Jalan napas definitif-selang endotrakeal atau selang trakeostomi-disediakan tidak hanya sebagai jalan napas (dengan cuff utuh), memberikan dukungan ventilasi kontinu, dan memberikan konsentrasi oksigen terus menerus. Memelihara jalan napas meliputi mengetahui kapan menghisap, teknik penghisapan lain, tekanan cuff adekuat, pencegahan nekrosis tekanan dari selang endotrakeal atau orofangial, perawatan nasal dan oral untuk membuang penumpukan sekresi, yang bila teraspirasi kedalam jalan napas bagian bawah dapat menyebabkan infeksi paru sekunder, dan pemonitoran konstan terhadap jalan napas bagian atas dan sekresi trakeal pada sisi trakeostomi terhadap adanya tanda infeksi. Perawatan ini penting.

Pemantauan Fungsi Pernapasan
            Alat hemodinamik untuk pasien dengan gagl pernapasan dimonitor pada kegiatan rutin. Tipe pemonitoran yang selalu minimal pada umumnya atau pemeriksaan sangat lengkap (karena alat pemantau hemodinamik) adalah yang paling sederhana. Observasi ketat oleh petugas yang handal tentang fungsi paru (dan pasien secara total) sepanjang waktu secara vital penting. Diagnosa fisik dan pemeriksaan radiologi dada kontinu menjadi teknik dasar yang harus digunakan.
            Teknologi harus dipertimbangkan sebagai cara peningkatan pemeriksaan fisik dan radiografik daripada menggantikannya.
            Pemeriksaan fisik pasien yang diintubasi harus meliputi upaya untuk menghilangkan informasi subjektif. Bila pasien mampu untuk berkerja sama dan menulis, kertas dan pulpen akan diberikan sebagai alat untuk berespons terhadap pertanyaan seperti dibawah ini:
1.      Bagaimana perasaan anda?
2.      Bagaimana pernapasan anda?
3.      Apakah anda memperoleh udara yang cukup?
4.      Dimana anda berada saat ini?
5.      Tanggal dan hari apa sekarang?
Efek mengganggu pada hipoksemia pada fungsi sistem saraf pusat harus tetap diingat. Menanyakan suatu pertanyaan pada pasien adalah upaya untuk menentukan ketajaman mental merupakan bagian penting dalam pengkajian.

Rencana Asuhan Keperawatan
No.
Diagnosa Keperawatan
NOC
NIC
1.
Gngguan pertukaran gas yang berhubungan dengan hipoksemia refraktori dan kebocoran intertisitial pulmonari/alveolar paa status cidera kapiler paru.
Oksegenasi adekuat
1.      Kaji bunyi napas setiap 2-4 jam
2.      Kaji tanda distres pernapasan: peningkatan frekwensi jantung, agitasi, berkeringat, sianosis.
3.      Kaji simetri dada
4.      Monitor haluaran dan masukan, observasi efek deuresis dan pemberian cairan
5.      Kaji irama dan disritmia dengan EKG
6.      Berikan dan monitor terapi bronkodilator sesuai indikasi
7.      Pertahankan ventilasi mekanis
8.      Lakukan laporan seri radiologi dada
2.
Bersihan jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan peningkatan produksi sekresi dan penurunan gerakan silia
Mempertahankan jalan napas paten








Sekresi akan tetap encer dan mudah dibersihkan
1.      Kaji bunyi napas 2-4 dan bila perlu
2.      Pertahankan posisi tepat pada trakeostomi/selang indotrakeal
3.      Hisap trakeostomi/selang endotrakeal, rongga mulut/nasal, gunakan teknik steril. Catat warna, jumlah dan konsistensi sekresi
4.      Berikan suplemen humidifikasi
5.      Siapkan untuk bronkoskopi sesuai indikasi

Pola nafas tidak efektif yang berhubungan dengan pertukaran gas takadekuat, peningkatan sekresi, penurunan kemampuan untuk oksigenasi dengan adekuat, takut atau kelelahan
Kerja pernapasan minimal dengan mempertahankan tirah baring atau tingkat kegiatan sehari-hari rendah
1.      Monitor timbulnya/berlanjutnya tanda distres pernapasan
2.      Beri posisi pernapasan untuk memudahkan pernapasan, biasanya kepala tempat tidur ditinggikan
3.      Yakinkan pasien dengan pendekatan meyakinkan dan perlahan. Temani pasien
4.      Kaji laporan hasil radiologi
5.      Monitor seri GDA
6.      Pemberian oksigen sesuai dengan indikasi
7.      Sedasi sesuai indikasi atau bila perlu
8.      Evaluasi semua keluhan subjektif
9.      Ubah posisi, batuk, napas dalam tiap 2 jam
10.  Penghisapan bila perlu
11.  Analgetik untuk nyeri bila perlu sesuai indikasi

Resiko tinggi ansietas: yang berhubungan dengan penyakit kritis, takut kematian, atau kecacatan, perubahan peran dalam sosial, atau kecatatan permanen
Pasien mampu mengekspresikan ansietas pada orang yang tepat
1.      Berikan lingkungan yang mendukung diskusi terbuka tentang isu emosional
2.      Gerakan pendukung pasien dan libatkan sumber ini dengan tepat
3.      Sedikan waktu untuk mengekspresikan diri
4.      Validasi pengetahuan dasar pasien dan keluarga tentang penyakit kritis
5.      Libatkan sumber religius yang tepat




BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Gagal nafas adalah suatu kondisi dimana sistem respirasi gagal untuk melakukan fungsi pertukaran gas, pemasukan oksigen dan pengeluaran karbondioksida. Keadekuatan itu dapat dilihat dari kemampuan jaringan untuk memasukkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.


B.    SARAN
Perlu adanya edukasi kepada masyarakat tentang gagal napas dan bagaimana cara pertolongan pertama supaya dapat meminimalisir tingkat kematian yang diakibatkan oleh gagal napas.














DAFTAR PUSTAKA

Corwin,E.2000.Handbook of Patophysiology (Buku Terjemahan).Jakarta:EGC

Mansjoer, Arif. 2004. Kapita Selekta Kedokteraan . Edisi 3. Jilid 2. Jakarta : Mediaesculapius.

Price, Sylvia. A. 20004. Patofisiologi Konsep Klinis Proses - Proses Penyakit. Jakarta : EGC

Sarwono.1996.Buku Ajar Penyakit Dalam.Jilid pertama,Edisi Ketiga.Jakarta:FKUI

Wong, Donna. L. 2004. Pedoman Klinis Perawatan Pediatrik. Jakarta : EGC